Teruntuk: Seseorang yang Kutinggalkan dalam Tanya

poems about love

Dulu, saat kita masih terlalu kecil untuk mengenal cinta, aku menemuimu. Menjengukmu di setiap waktu-waktumu yang lelah. Aku tak sungkan membasuh wajahmu yang penat. Tak lupa ku bisikkan kata-kata yang selamanya tak akan pernah aku lupa. Ya, sejak itu aku mencinta. Seperti anak kecil pada umumnya, aku juga menyatakan cinta. Cinta pertama, kau lah cinta pertama.

Meski aku tak kekanak-kanakan, tapi tak bisa dipungkiri kalau kita masih kanak-kanak. Kadang aku hanya berani melirikmu lewat celah-celah pintu hati yang kau buka sedikit sekali. Aku mengernyitkan mata, berusaha menikmatimu dari arah yang tak kau tahu. Bahkan arah yang tak pernah kau duga.

Aku tak tahu kalau kau tahu. Tapi kau pura-pura tak tahu tentang apa yang kau tahu. Pun, juga mungkin tak mau tahu dengan apa yang sebenarnya kau tahu. Semua membuat aku bimbang dalam ucap. Kelu dalam tatap. Nanar di beberapa gejap. Satu gejap, dua gejap.

Kita memang masih terlalu kanak-kanak di waktu itu hingga kini kita pantas tertawa. Geli mengingat masa-masa yang tergilas waktu, sepuluh tahun yang lalu. Uniknya, kau masih bertahan saja di kepala. Mengisi sel-sel otakku. Mendarahi setiap syaraf-syaraf yang mengair di ragawi. Kau seperti mawar tak berduri, hingga mampu berdiri di tepi hati. Tanpa melukai.

Lalu kau kembali, mengetuk pintu hati yang engselnya telah berderit dipeluk karat. Tak usah kau basuh dengan air mata. Izinkan saja aku untuk mampu tersenyum setelah sekian lama menunggu wajahmu. Terpatut di depan pintuku. Lalu memelukku. Membenamkan wajahmu di lingkar bahuku. Bahu yang begitu lama menadahkan diri, menantimu.

Kini kita telah dewasa. Mereka tak akan lagi tertawa. Mereka hanya bisa bercanda dan berolok-olok pada saksi sejarah yang kita pahat. Tak sadar, kita telah menjadi kolaborasi pematung terbaik dunia. Mematung cinta sekaligus nisan di pusaranya. Karena di sinilah cinta menemukan gerbangnya. Apa kita akan terus bersama atau malah berpisah untuk selamanya.

Beberapa kali aku bilang, menurutmu itu tak berbilang. Aku tak memiliki segudang cinta, hanya sebutir saja. Tapi ia seperti embun yang biasa kau nikmati di pagi hari. Suci nan mensucikan. Meski setetes, namun ia mampu mengairi seluruh kehidupan manusia. Hingga berakhir tanpa cela.



Pic : beruangwarnacoklat.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

Good comments are very needed