Teman, Damailah Disana

Aku tak mungkin merutuk pada benda-benda yang beterbangan menyambar-nyambar kepingan tubuhmu
darah yang masih segar berserakan bersama deru tangis dan jerit kengerian.
tak terhitung jumlah ucap yang menerjemahkan luka
tak berbilang isak yang mengabarkan duka
Itulah senja terakhir yang kau tatap

Aku masih ingat dengan kenangan-kenangan pahit yang sempat kita lalui bersama
itu adalah kenangan puluhan tahun lalu
kenangan yang kini telah kau bawa, entah kau tinggalkan saja tanpa menitipkannya

Kita adalah bukti nyata tentang kejamnya dunia
kita fasih bagaimana membunyikan perut kerempeng tanpa isi
bertahun, ya bertahun

Entah kenapa jarak dan waktu memisahkanmu dariku begitu jauh
jauh hingga kau tak mampu kujenguk meski hanya sesekali

Adalah ego, adalah dendam, adalah ambisi
adalah benci, adalah caci, adalah maki
tercampur di hidangan kita yang masih ingusan
yang tak mampu membedakan, putih dan hitam

Lalu kau pergi di magrib, saat surya ingin membenahi peraduannya
gagak-gagak hitam yang menyanyikan lagu mengiringimu
entah mengapa aku tak mereka kabari

kini, aku hanya menyimpan lembar-lembar lusuh tentang masa lalu kita
ku tata rapi di memoryku
selamat jalan, moga damai di sana!




RIP. Sepupuku yang meninggal di penghujung senja. Maafkan aku dan masa lalu kita yang terlalu getir untuk dikenang.

No comments:

Post a Comment

Good comments are very needed