Masa Lalu

Masa lalu adalah masa yang membentuk seperti apa dirimu sekarang ini. Cepat atau lambat akan terhapus oleh waktu. Tergilas oleh perputaran zaman. Cinta yang dulunya pernah mekar akan tergantikan cinta yang baru. 

Akan datang seseorang yang memelukmu begitu erat hingga pelukannya itu seperti mengumpulkan kepingan-kepingan dirimu yang pernah berserakan. Membuat harapanmu kembali muncul. Cahaya masa depan pun bersinar terang.

Akan datang seseorang yang memelukmu begitu erat hingga kau sadar kenapa selama ini hubunganmu tak pernah berjalan dengan baik. Dia yang mencintaimu begitu tulus. Dan yang kau cintai begitu tulus. Yang menyerahkan diri dan hatinya sepenuhnya untukmu. Dan kau juga menyerahkan diri dan hatimu sepenuhnya untuk dirinya.

Tak ada lagi tangis. Tak ada lagi luka. Tak ada lagi perih yang selama ini kau tahan-tahan dalam isak tiap malam.

Klik Untuk Melanjutkan >>Masa Lalu

Kamu Pembawa Tangis

Kamu yang membawa tangis ke bulir-bulir kesedihanku
Pergi dan enyahlah ke peraduanmu yang kau bilang meneduhkan itu
Kau pikir aku percaya?

Kamu yang menutupi cahaya-cahaya penerang dengan awan kelabu
Seolah kau melindungi
padahal kau menutupi

Atau aku saja yang pergi?
Klik Untuk Melanjutkan >>Kamu Pembawa Tangis

Lagu di Senja Percintaan

Seperti lagu-lagu yang kita lupa judulnya tapi ingat syair dan melodinya
atau
Seperti syair-syair yang kita lupa judul dan melodinya tapi ingat lagunya
atau
Seperti melodi yang kita ingat namun lupa barisan syair dan lagunya
atau
Seperti aku dan kamu yang tak pernah bisa melupakan namun mencoba menghapus kenangan-kenangan yang telah lama terbentuk di hati.
Kenangan yang terukir di tiap hari.
Di tiap canda.
Di tiap amarah.
Di tiap luka dan tawa.
Di tiap peluk dan kecup.
Di tiap isak dan tangis yang kita saling peluk saling menenangkan.

Ada kecurangan..
Ada kecurigaan..
Ada hati yang terlukai
Ada kepercayaan yang ternodai.

Kita terbentuk dari bongkah-bongkah kekecewaan. Kita mencoba membangun dari butir-butir kepercayaan.

Pada titik tertentu, kini kita terpisah pada ruang stagnan yang tak bisa dipaksa bergerak.
Gerak hanya meninggalkan derak.
Derak yang menyuarakan serak.

Menatap ke belakang, di senja percintaan.
Air mata menitik.


Klik Untuk Melanjutkan >>Lagu di Senja Percintaan

Jendela Menuju Senjamu

Ada beberapa waktu yang kita lewati bersama sedari pagi namun tak pernah menyentuh senja. Tak sampai menggelitik ufuk barat yang mewarna saga. Seperti tak pernah belajar kalau senja adalah fitrah dari perputaran bumi pada porosnya. Lalu kita, dengan polosnya bersembunyi dari siang. Lalu kapan lagi kita menikmati setiap rindu yang tersaji hanya di terik mentari.

Lalu kita kembali menunggu pagi dengan melangkahi senja. Tapi kita baru saja terbangun dari mimpi terburuk, perpisahan. Untungnya pagi masih tetap bersahabat dengan mengirimkan beburung menyampaikan kekicau lewat celah jendela. Mengabarkan pagi lewat dingin embun yang perlahan menyisip di antara atap-atap rumah. Dengan malas kita bangun menyambut nyanyian parau ayam tetangga.

Ada hal-hal yang memang kadang aku tak mengerti tapi kenapa harus aku terima? Ini jalan berkerikil yang harusnya tak kutempuh. Cinta sejati itu memberi sayap-sayap, menyediakan bahu sebagai landasan terbang. Lalu kenapa kau tak pernah kembali sebelum senja? Selalu saja menunggu gelap baru kau pulang, tak pernah lelah bertualang. Tapi ada pula cinta seperti belenggu yang tak rela membiarkan terbang, harus berkubang di lumpur yang sama.

Kau tak sadar kalau akulah petualangan tersulitmu. Hatiku tak pernah bisa kau taklukkan. Tubuhku tak pernah kau daki hingga puncaknya. Berdiri di sini saja. Injak kepalaku dan tatap dunia yang tak pernah kau lihat sebelumnya.

Aku lupa ini senja yang keberapa yang tak sempat kita lalui bersama!


Klik Untuk Melanjutkan >>Jendela Menuju Senjamu

Aku Menantang Angkuhmu!

Dulu aku punya lautan kata-kata yang tersedia senantiasa membasuh setiap gelisahmu
Aku tersenyum pada setiap senyum yang berhasil aku bingkai di sudut-sudut bibirmu
Tapi aku salah..

Kata-kata adalah bingkai rapuh yang senantiasa bisa kau patahkan
kau remukkan di depanku

Aku menjelma air yang mengganaskan dan siap membinasakan cinta ini
Cinta yang aku punya ternyata tak menebas egomu

Aku berdiri angkuh di puncak kemarahan
Lalu kau tersenyum menyeringai serupa serigala di malam purnama
Seringai membahana menggetarkan dada yang tak pernah terjangkau suara sebelumnya

Matamu, merah semerah senja
Aku terpana pada ketidakpercayaan..

Aku berlari ke puncak dunia, puncak yang tak akan kau gunakan sebagai tempat lolongan sombongmu
Kau begitu angkuh di duniamu

Hayo kita lihat siapa yang paling angkuh di antara keangkuhan kita yang berdiri kukuh.
Atau atau kau?

Dada siapa yang paling lama membusung dan mata siapa yang paling lama membelalak.
Mulut siapa yang paling meracau tak henti.

Dan hati siapa yang paling hebat dalam memaki!


Klik Untuk Melanjutkan >>Aku Menantang Angkuhmu!

Membayar Rindu

Aku pernah berhutang rindu padamu beberapa minggu, dalam hatiku itu berwindu
Aku juga pernah beberapa kali mencoba membayar rindu dengan memotong waktu sesekali
Menemuimu..

 Menemuimu di penghujung-penghujung sempatku, menyalip-nyalip kesibukan yang berbaris macet di depanku.
Laksana lalu lintas Jakarta
Akh tak usah kusebutkan Jakarta, sebab aku tak lagi ingin menyentuhnya.
 Hingar- bingarnya juga hanya mengingatkanku padamu, tak teredam, gemuruh gendang di hati yang memparadekan namamu.

 Atau kucoba menyakitimu dengan sempurna saja? Kau tak pantas dilukai.

Pun dengan kata-kata. Sebab kau terlalu indah.
Bagi mereka yang mengerti indahmu.
 Menemui bidadari untuk membayar rindu adalah caraku meminum air laut.
Aku tak yakin.
 Sebab ada ketakutan.
Ya ketakutan yang teramat besar, yang kuburamkan dalam jeritan cintaku.
Aku menjerit sekeras itu untuk meredam gemetar dan gemeletuk gigiku di peluk dinginmu.
Klik Untuk Melanjutkan >>Membayar Rindu

Cinta, Kembali Padamu Juga!

Kembali Padamu Juga!
layang-layang
Layang-Layang terlihat terbang bebas di angkasa, langit biru, awan putih, matahari kuning, angin membalut rangka-rangka bambu yang tampak rapuh terlilit benang kendali dari bumi.

Layang-Layang bisa terlepas meninggalkan langit biru, menyayat awan putih, memudarkan kuning mentari dan melunglaikan rangka-rangka bambu yang memang rapuh tak terkendali

Sejak kapan mentari menguning?

Sejak padi di sawahku terpanen sebelum musimnya, hijau-hijau terputus, kuning-kuning tertebas
burung-burung yang biasanya hadir setelah hujan, kini menyanyikan lagu-lagu sendu
pelangi tergantikan isak-isak padi bunting menanti gugur perhatian sang empunya

Akhirnya aku kembali padamu juga, membawa cinta yang kubawa berkelana ke mana-mana. Ke hati yang tak ku kenal, ke hati yang tak kau kenal, ke hati yang rimbanya tak bertuan.

Padamu juga, cinta yang dulu kujanjikan membawakan secawan madu. Meminumkannya padamu di bawah mentari yang memang tak pernah menguning.

Tapi cinta ini bukan layang-layang tanpa kendali!
Klik Untuk Melanjutkan >>Cinta, Kembali Padamu Juga!