Relakan Saja

memang dunia tak akan pernah bisa
masuk ke dalam tempurung kepalaku
mungkin karena besarnya berbeda
atau kepalaku yang memang lugu
apa yang dinyatakannya seolah semua hanya teka-teki
tak relevan dengan teori ilmuwan manapun
mana bisa aku percaya jika tak menopang logika
lagu-lagu disenandungkan musisi serak berdarah
lantas dikatakan seni,semua yang aneh dikatakan seni
semua yang berani malu dikatakan seni,air seni (mungkin)
sejarahnya ada seribu versi
agama
aristoteles
darwin
arkeolog
dan 996 versi lain
lalu siapa bapakmu
jangan malu,bila asalmu saja kau tak beritahu (memang tak tahu)
apalagi ibumu
lalu mereka yang mengadopsimu
seolah bertanggung jawab
padahal rambutmu dipangkas untuk dijual
tahi gigimu dikeruk juga dijual
kadang dilingkarkan di leher
di tangan,kaki dan jari
kencingmu ditampung
kalau tak habis untuk diminum,ditampung untuk anak yang di rumah
sebagian lagi dijual
semua bisa dijual
diri pun bisa
harganya?
berapa kilo,bungkus saja,jangan diikat erat,nanti layu,cepat busuk nanti
sebab sayur itu daun manja
di ulang tahunnya yang keseratus
kau mendekapnya dengan dengan ayat-ayat suci
maaf
bukan mengajari
dia tak terbiasa dengan itu
dia takk tenang dengan itu
dia kepanasan
kau dengar erangannya
diakah bapakmu?,ah kau pasti ingat erangannya ketika menelurkanmu
takziyah di rumahnya dipenuhi karangan bunga
padahal tadi pagi jutaan orang memintanya mati
setelah terkabul,tertawa saja,seperti aku
jangan kau kirim belasungkawa
perutnya sudah terlalu besar menampung ucapanmu,bisa meletus nanti
masih kau ingat galunggung kan?
itu yang kau buat saat kau menangis atau kau lupa
sudah! ambillah kembali rambutmu,kencingmu dan tahi gigimu
agar aku tahu apa memang dia bapakmu
dia takkan melawan lagi
buldosernya sudah berhenti
bekonya sudah mati
gergajinya patah
solar habis
agar kami tahu memang kau terlahir dari teori yang berbeda
bukan dari bapak yang tak jelas erangannya!

No comments:

Post a Comment

Good comments are very needed