Sayang, Cinta Ini Putih

Cinta ini seputih salju pada dongeng-dongeng yang diceritakan ibu melalui buku lusuh tentang peri-peri dari negeri antah berantah. Hanya saja beberapa kali kita mencoba, dengan sengaja atau tidak mewarnainya dengan biru langit, hitam amarah atau coklat asmara.

Cinta ini seteduh pohon berdaun lebat yang ditanam ayah di depan rumah beberapa tahun yang lalu. Katanya itulah cinta sejati yang meneduhkan. Daunnya hijau, menyejukkan mata kita. Membersihkan paru-paru yang kerap terkotori sekam dendam. Bara curiga atau nyala praduga.

Sayang!
Perasaan ini semurni embun yang perlahan jatuh di subuh hari. Bulir-bulirnya mendinginkan jiwa-jiwa yang tercekoki tuak penghapus kesadaran. Sayangnya mentari terlalu pagi datang, embun-embun beterbangan ke awan. Berulang kali aku berusaha mengejar, mengepakkan sayap yang kau beri. Tapi aku harus menunggu esok. Mereka pasti kembali. Mereka tak akan ingkar ikrar. Aku yakin.

Sayang!
Cinta ini tetap putih meski ada gelisah yang perlahan-lahan menjelma embrio. Benih-benihnya kerap kau tanam di antara gurat-gurat masalah, di antara kita. Ingin aku menggugurkannya sebelum ia terlahir. Tapi kunanti ia, sehebat apa dia bisa merobohkan tugu rindu ini.

Cinta ini putih, seputih awan-awan yang berjenak-jenak jenaka melukis wajahmu. Hingga senja adalah ruang yang kutunggu untuk menatapmu. Di langit. Kadang ia berubah jingga, bila aku terlambat. Kadang ia berubah kelam bila hujan ingin hadir. Mencium bumi.

Akh. Anggap saja cinta ini putih bahkan jika aku kehabisa bahasa, merayumu!

3 comments:

Good comments are very needed